Kembali Menjelajah dan Mendaki Kawah Ijen Banyuwangi

Kembali Menjelajah dan Mendaki Kawah Ijen Banyuwangi

Diposting pada

Setelah mengunjungi kawah wurung bondowoso saya bertemu dengan sahabat baru yang berasal dari Probolinggo yakni Habib Ali Akbar.

Beliau mengajak saya untuk singgah di rumah sodaranya di Bondowoso, akhirnya saya pun ikut dan kita semua makan-makan bersama dikarenakan ditempat tersebut sedang ada acara.

Sampai pada malam hari saya bertemu dengan rombongan bikers dari parganas yang ternyata akan melakukan pendakian menuju Ijen.

persiapan pendakian kawah ijen

Dari yang tidak ada niatan untuk mengulang kembali menuju ijen, akhirnya sekaligus mengenang perjalanan saya kembali menaiki kawah ijen besama rombongan biker perganas.

perjalanan dari tempat menginap di daerah sempol Bondowoso, kami mulai menuju pintu masuk kawah ijen pada pukul 01.30 dini hari.

Ternyata rombongan bikers sudah duluan dan saya menyusul sendiri menelusuri gelapnya malam, tapi di tengah jalan yang gelap tanpa ada penerangan sama sekali saya kembali bertemu dengan rombongan.

Akhirnya bersama menuju parkiran di kawah ijen, kami tiba dipintu masuk kawah ijen pada sekitar pukul 02.00 dini hari lebih.

Istirahat sejenak untuk menghangatkan tubuh dan juga menunggu pintu pendakian dibuka, pada masa pandemi pendakian kawah ijen di buka pada sekitar pukul 3 dini hari.

Yang artinya kalau pukul 3 kemungkinan tidak bisa melihat blue fire, karena ketika dulu saya melihat blur fire pendakian kawah ijen dibuka pada sekitar pukul 01.00 malam dan langsung memulai pendakian pada saat itu juga.

Memulai Pendakian Menuju Kawah Ijen

memulai pendakian menuju kawah ijen

setelah registrasi dan melakukan pembelian tiket kami memulai pendakian bersama kawan-kawan perganas.

Tak seperti biasanya trek pendakian menuju kawah ijen saat itu sangat sepi, dan hanya ada beberapa rombongan pendakian.

Kami terus menelusuri jalur pendakian yang gelap dan juga cukup curam dibeberapa titik jalan.

Sebagai tips ketika mendaki menuju ijen pastikan persiapan jaket yang cukup tebal dan juga fisik yang kuat karena trek yang cukup menanjak curam dan memakan waktu, juga cuaca ijen yang sangat dingin.

Saya pribadi ketika berkunjung ke suatu daerah yang cukup dingin pasti menggunakan jaket double, yaitu pakai jas hujan lalu kemudian jaket yang sering digunakan, selain berfungsi melindungi dari guyuran air hujan, jas hujan juga berfungsi menghangatkan tubuh pada cuaca yang dingin.

Jangan lupa juga untuk membawa peralatan yang ringan-ringan saja, dan yang paling penting jangan lupa untuk terus berdoa selama dalam perjalanan agar selamat sampai tujuan dan selamat kembali pulang.

Sekitar pukul 5 lebih kami tiba di puncak kawah ijen, sebagai informasi gunung ijen merupakan gunung berapi yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Gunung ini memiliki ketinggian 2.386 mdpl dan terletak berdampingan dengan Gunung Merapi jawa timur.

Gunung Ijen terakhir meletus pada tahun 1999. Salah satu fenomena alam yang paling terkenal dari Gunung Ijen adalah blue fire (api biru) di dalam kawah yang terletak di puncak gunung tersebut.

dan Kawah Ijen merupakan sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5.466 Hektar. Danau kawah Ijen dikenal merupakan danau air asam kuat terbesar di dunia.

Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Fenomena eternal blue fire atau api biru abadi berada di dalam kawah Ijen, dan pemandangan alami ini hanya terjadi di dua tempat di dunia yaitu Etiopia (gunung Dallol) dan Ijen.

Dari Kawah Ijen, kita dapat melihat pemandangan gunung lain yang ada di kompleks Pegunungan Ijen, di antaranya adalah puncak Gunung Marapi yang berada di timur Kawah Ijen, Gunung Raung, Gunung Suket, dan Gunung Rante.

Salah satu yang menjadi perhatian banyak wisatawan yaitu penambang belerang tradisional, para penambang dengan berani mendekati danau untuk menggali belerang dengan peralatan sederhana lalu dipikul menggunakan keranjang.

Setelah belerang dipotong, para penambang akan mengangkutnya dengan cara dipikul melalui jalan setapak, Beban yang dipikul cukup berat antara 80 hingga 100 kg.

Para penambang sudah terbiasa memikul beban yang berat ini sambil menyusuri jalan setapak di tebing kaldera yang begitu curam menuruni gunung sejauh 3 kilometer.

Pekerjaan ini juga kerap sekali disebut sebagai pekerjaan paling berbahaya di dunia.

Saat tiba puncak saya selalu terpesona oleh keindahan alam kawah ijen, tidak penah menyesal rasanya walaupun sudah pernah berkunjung kesini, rasa lelah yang dilalui saat pendakian terbayarkan sudah, saat melihat keagungan tuhan yang luar biasa.

Untuk yang tidak kuat melalui pendakian kalian juga bisa menyewa ojek gerobak menuju kawah ijen dengan biaya kisaran 300rb untuk satu kali jalan.

Setelah puas menikmati keindahan kawah ijen, kabut yang cukup tebal turun menyelimuti gunung dan jarak pandang yang semakin terbatas.

Pada akhirnya saya turun menyusul kawan-kawan yang sudah turun duluan, diperjalanan turun kalian akan dimanjakan oleh pemandangan yang indah sepanjang perjalanan.

Sampai pada akhirnya sayapun tiba kembali di parkiran dan berpisah bersama teman-teman bikers parganas, saksikan video lengkap perjalanan pendakian menujukawah ijen pada video dibawah ini.

Gambar Gravatar
Pemuda yang suka Adventure dan Traveling dengan kendaraan Roda Dua, mempunyai mimpi untuk terus explore tanpa batas dan berbagi momen melalui tulisan dan konten di Blog ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.